Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS
Tampilkan postingan dengan label cerita aiyya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita aiyya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Pohon Beringin Bertuah



Saat kecil dulu saat saya masih duduk di bangku SMP, seorang guru seni budaya yang selalu mempunyai banyak cerita menarik bertanya ketika mengajar dikelas. “kalian tau kenapa buah pohon beringin sangat kecil? Kenapa tidak seperti buah semangka agar bisa dinikmati saat berteduh dibawahnya pohonnya?”. Serempak kami menjawab “tidak tau pak”.

Kami menebak-nebak apa gerangan jawaban yang benar. Beberapa berpikir itu hanya tebakan saja dan jawabannya tentu akan terdengar konyol, sedangkan beberapa lagi mencoba mengajukan jawabannya satu-persatu. Semua jawaban yang kami ajukan salah menurut guru saya, sejenak beliau terdiam dan kemudian tersenyum seperti menantang kami. Hehe

Beberapa menit kemudian sebuah jawaban terkuak. “coba kalian bayangkan, apa yang terjadi jika buah pohon beringin sebesar buah semangka? ketika kalian berteduh dibawah rindangnya dan sayup-sayup mulai mengantuk dibuai angin. Tiba-tiba kalian dikejutkan oleh jatuhnya buah pohon beringin yang sebesar pohon semangka. Beruntung jika buah tersebut jatuh tepat didepan kalian, kalian bisa menyantapnya dengan nikmat. Tetapi jika buah tersebut jatuh dan menjatuhi hidung kalian? Apa yang akan terjadi? Seketika hidung kalian pesek bukan?” seketika kelas menjadi ramai karena teman teman sibuk tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban guru saya.


Cerita yang sederhana memang, hanya cerita masa kecil. Tetapi dari situ saya bisa belajar bahwa segala sesuatu diciptakan sudah sesuai pada takarannya masing-masing dan sudah pada tempatnya. Seperti kita, apa yang kita dapatkan sekarang sudah direncanakan oleh perancang yang ahli, oleh Allah SWT. Hanya bersyukur dan percaya bahwa Tuhan menempatkan kita ditempat kita sekarang bukan karena sebuah kebetulan. Hanya menunggu kejutan-kejutan yang nanti akan Allah datangkan, kejutan menarik maupun kejutan yang menantang tentunya. ^-^

Landak Bermigrasi


Saya masih terheran-heran pagi itu melihat seekor landak yang lumayan besar berjalan dengan imutnya melewati jalan utama didepan rumah saya. Sebelumnya saya kira hal itu wajar-wajar saja, pun seekor landak itu muncul dari semak belukar dipekarangan milik tetangga saya dan mencari semak belukar di seberang jalan. Baru beberapa detik setelah saya mengadukan adanya seekor landak ke ibu saya, tetangga depan rumah sudah berteriak teriak seperti kebakaran jenggot. “landaaakk...landaaaakkkk. bu yati ada landak didepan rumah sampean.” Sekejap saya sudah berada didepan rumah ingin melihat landak tersebut. Tetapi sedetik kemudian landak tersebut sudah lari memasuki semak dan menghilang bak ditelan bumi.

          Mendengar kegaduhan tersebut sepupu saya yang notabene sangat doyan berburu bergegas keluar membawa senapannya. Pagi itu satu gang dipenuhi kerumunan orang-orang yang ingin melihat keberadaan landak tersebut, dari kejauhan sepupu saya dengan santainya menenteng landak yang sudah mulai sekarat seperti kesatria yang berhasil melumpuhkan lawannya.

          Setelah pamit dengan ibu yati tercinta saya langsung menuju ke halaman rumah sepupu saya yang jaraknya hanya beberapa jengkal saja. Landak yang sudah sekarat itu dikerumuni banyak sekali orang sehingga memenuhi halaman rumah sepupu saya yang lumayan luas. Usut punya usut, landak itu sudah beberapa hari ini berkeliaran di areal persawahan milik warga sekitar, dan spekulasi sementara para warga bahwa landak itu bermigrasi dari habitat semestinya. Tetapi bukan manusia namanya kalau tidak berpikiran aneh-aneh dan macam-macam, ada saja yang berpikiran bahwa mungkin saja landak itu  peliharan seseorang dan merupakan landak jadi-jadian. Dan yang mengatakan demikian tersebut adalah bu le’ saya -_- (terimakasih sudah menakut-nakuti saya ya bu le’).

Landak yang sudah hampir mati tersebut kemudian disembelih oleh sepupu saya. Sungguh, saya tidak tega melihat landak itu sekarat dan meregang nyawa secara tidak terhormat. Sesaat saya menyesali kejadian pagi itu, andai saja tidak ada yang melihat, atau andai saja saya tidak melihatnya pertama kali mungkin saya tidak akan semenyesal ini. Mengingat bahwa landak merupakan hewan langka dan dilindungi. Tetapi, seperti itulah akhirnya kisah si landak. Hidup sebagai buronan dan mati menjadi santapan. 

Selasa, 23 Desember 2014

Pondok Kopi Umbul Sidomukti Semarang



Masih bersama sammy, kali ini jalan jalannya ke pondok kopi di umbul sidomukti semarang. Sebenarnya kami sudah pernah kesana sebelumnya, tapi karena saat itu pondok kopi dipenuhi pengujung alhasil hari itu kami hanya duduk duduk saja menikmati asrinya sekotak semarang yang sejuk.

Dan kali ini setelah puas berfoto-foto di brown canyon kami mendapat undangan bersama teman teman satu jurusan untuk menyejukkan fikiran di pondok kopi umbul sidomukti. Lagi-lagi salah kostum, karena dari brown canyon belum sempat pulang untuk mengganti pakaian. Alhasil saya ke pondok kopi hanya mengenakan blazer pink unyu tanpa jaket. Jika sebelumnya saya kepanasan, maka kali ini sebaliknya. Saya kedinginan
Pondok kopi umbul sidomukti ini terletak dibawah kaki gunung ungaran dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl.pada ketinggian ini bisa dibayangkan betapa kedinginannya saya saat itu. Tapi bersyukur sammy yang baik hati meminjamkan jaketnya untuk saya.

Tempat ini lokasinya tidak jauh dari tempat wisata umbul sidomukti. Cukup naik sekitar 500 meter maka kita akan menemukan restaurant yang bernama pondok kopi. Bagi yang suka mendaki gunung, pondok kopi juga terletak tepat dibawah base camp mawar, base camp nya pendaki gunung ungaran.

Pemandangan yang indah membuat tempat ini menjadi tempat nongkrong para anak gaul semarang yang bosan dengan bisingnya kota. Tempatnya pun nyaman dengan 3 spot tempat duduk, didalam ruangan, di teras, dan di halaman samping. Benar-benar suguhan yang sangat menkajubkan. Menu yang menggoda selera dan pemandangan yang memanjakan mata.

Sayang sekali dua kali bertandang kami tidak mengantongi banyak foto-foto dari pondok kopi.








Semoga menjadi rekomendasi tempat wisata yang menarik. Happy travelling ^^

Senin, 31 Maret 2014

Apa Mimpi Masa Kecilmu?


sumber : disini

Pernahkah kalian memiliki impian saat kecil dulu? Tentu pernah. Bahkan biasanya impian anak-anak jauh dari bayangan orang-orang dewasa. Impian konyol, impian mustahil, bahkan impian yang paling sederhana anak-anak pasti memilikinya.

Beberapa teman pernah bercerita mengenai impian masa kecilnya. Bermacam-macam sekali, dan setiap jenjang biasanya akan berbeda. Teman sewaktu TK dulu misalnya, setiapa saat dia pasti akan mengatakan bahwa ketika besar nanti dia akan menjadi Power Ranger. Beranjak SD impiannya berubah, bahkan ada 2 hingga 3 mimpi yang ingin ia wujudkan saat dewasa nanti, menjadi presiden, menjadi insinyur dan menjadi dokter. Sungguh impian yang menakjubkan. Pun ketika memasuki jenjang yang lebih tinggi impiannya sudah berbeda dengan impian-impian yang dulu ia celotehkan saat kecil dulu. Lucunya, sampai dia memasuki perguruan tinggi tidak ada satupun dari seabrek impian masa kecilnya yang menunjukan tanda-tanda akan diwujudkan. Pasalnya, berita yang terakhir beredar dia memasuki sebuah universitas islam dan mengambil jurusan tarbiyah.

Menggemaskan memang membayangkan anak-anak berimajinasi dengan impian besarnya. Tetapi, terkadang ada pula anak-anak yang mempunyai impian sangat sederhana. Teman satu perguruan tinggi pernah bercerita mengenai impian nya sewaktu TK dulu. Ketika gurunya menanyakan ‘ingin jadi apa saat besar nanti?’ dengan lugunya dia menjawab supir bus. Jawaban ini tentu akan membuat siapa saja yang mendengarnya geleng-geleng kepala.

Tidak ada yang salah dengan impian masa kecil anak-anak. Mereka boleh saja berimajinasi, bahkan pepatahpun mengatakan ‘gantungkan impianmu setinggi langit’. Hanya saja tanpa bimbingan dan arahan dari orang tua imajinasi anak-anak terhadap impian mereka akan sia-sia.

Bukan tidak mungkin tentunya untuk menjadi seorang presiden? Insinyur? Dokter? Atau supir bus sekalipun? Tentu saja dengan bimbingan serta arahan yang baik dari orang tua. Berikan pengertian tentang apa sebenarnya sebuah impian, kenalkan mereka dengan berbagai macam profesi yang ada di dunia ini. Sehingga sejak dini anak tidak lagi terombang-ambing dengan perkara akan jadi apa kelak besar nanti, atau yang biasa menjadi dilema seorang pelajar adalah ketika hendak menentukan jurusan untuk memasuki perguruan tinggi. Mereka cenderung bingung untuk mengambil keputusan yang menentukan arah hidupnya dimasa depan.

Tetapi dengan adanya perhatian dari orang tua anak tidak akan merasa khawatir dengan apa pekerjaan mereka nantinya, mereka hanya perlu memikirkan bagaimana cara mewujudkannya.

Selasa, 04 Maret 2014

Cerita Tentang Buah Dari Kompetisi Berpeluh Kasih




Aku tekadang merasa sulit mengatakan apa yang aku rasakan. Dan akhirnya, baris-baris alfabet selanjutnya menjadi pelarian dari kata yang tertunda.

Entah harus kumulai darimana, sungguh awalnya tidak ada yang istimewa. Hanya hubungan baik seorang kakak kelas dengan adik kelasnya yang bertemu dalam satu atap kampus dan dalam satu naungan organisasi. Sekilas terlihat begitu manis, lebih banyak bungkam namun sepertinya berkharisma tinggi.

Rupanya benar, dilihat dari banyaknya senior organisasi yang merekomendasikannya aku kira dia memang seseorang yang berkharisma. Hanya saja, belum ada sesuatu yang menarik perhatianku lebih jauh mengenai dirinya. Kecuali kepiawaiannya menghasilkan nada-nada indah dari petikan gitar yang menyita perhatianku lebih banyak.

Selalu menjadi candu melihatnya memainkan gitar seperti bercengkrama, begitu menghayati. Seperti yang kulihat pertama kali saat pengakraban organisasi malam itu. Dan berlanjut pada malam-malam selanjutnya, pada hari-hari berikutnya ditengah hingar bingar nya dinamika kampus.

Separuh perjalanan dari satu periode kepengurusan organisasi kampus benar-benar menunjukan seperti apa dia sebenarnya. Lagi-lagi harus kusampaikan, dia terlihat manis disetiap kesempatan. Tingkahnya, bahasanya, raut muka polosnya, semuanya. Sungguh, adik manis. Meski tidak lebih muda dariku. Membuatku berpikir untuk menelannya hidup-hidup.

Dia tidak lebih pintar dariku dalam masalah organisasi, mungkin. Tetapi banyak sekali pembelajaran yang kupelajari darinya tanpa sengaja. Banyak sekali hal-hal yang tidak kuketahui sebelumnya. Sebuah ketulusan, kegigihan, dia ajarkan dalam setiap gerak gerik nya. Tidak secara langsung memang, dari awal sudah kukatakan dia lebih banyak bungkam. Segala yang ingin dia katakan sepertinya dia katakan melalui apa yang dia lakukan, apa yang dia kerjakan. Lagi, ingin kutelan dia hidup-hidup.

Masih dalam satu lingkup organisasi, memungkinkan interaksi semakin sering terjalin. Apalagi berada dalam satu seksie kepanitiaan, mata semakin sering bertemu, tangan dan kaki semakin sering membantu, mulut semakin sering mengucap berbagai macam kalimat perhatian. Seperti yang terakhir kutau, dengan tangan kekarnya, berada dekat dengan dada bidangnya dia membawaku menuju ruang kesehatan. Atau saat masa-masa sulit menjadi beban dipundakku, memikul amanah berat menjadi ketua event. Pagi-pagi buta pesan singkat melayang masuk ke telepon genggam. “semangat mbak, dandan cantik untuk hari ini...” sederhana tapi membekas.

 Ahh.. bukan. Bukan apa-apa, hanya hubungan baik seorang kakak kelas dengan adik kelasnya. Itu yang kuyakini...

Entah seperti apa awalnya, pagar pembatas serasa melepaskan jerujinya satu persatu. Semakin merasa ada yang lain, ada yang lain ditengah interaksi yang sederhana ini. Entah apa, sampai pada akhirnya beberapa patah kata terdengar sangat mengejutkan. Dia berkata dia suka... lagi-lagi ber-entah-entah muncul pertama kali. Entah suka yang seperti apa, entah suka yang bagaimana, entah suka untuk apa dan atas dasar apa. Dia hanya berkata dia suka, padaku tentunya.

Entahlah.. aku hanya meyakini segala perhatiannya, segala yang dilakukannya hanya untuk menjaga hubungan baik seorang adik kelas dengan kakak kelasnya. Dan masih kuyakini hingga beberapa waktu lamanya

Namun sepertinya sekarang berbeda. Mungkin terlalu percaya diri untuk kukatakan bahwa dia benar-benar memperlakukanku istimewa, tidak selayaknya kakak kelas pada umumnya, atau bahkan hanya sekedar partner kerja saja.

Terkadang terlalu percaya diri juga untuk kukatakan, kicauannya di sosial media dia tujukan untuk diriku. Sejenak menarik diri, menyadarkan kembali pikiran untuk berpikir rasional. Oke, kurasa itu tidak mungkin untuk seorang koleris seperti dia. Membayangkannya pun aku tak sanggup.

Saat itu, saat segala kebingungan dia torehkan hanya karena seunting kata ‘suka’ yang tak sedikitpun jelas artinya. Saat itu juga ingin kukatakan, ingin kutanyakan sebuah penjelasan. Namun urung. Dan kini ketika keinginan itu muncul lagi, begitu banyak perbedaan kalimat yang ingin kukatakan. Kira-kira seperti ini ketika segala perkataan itu kukonversikan menjadi bahasa tulisan.

sebab kau telah meninggalkan jejakmu dihatiku, beribu terimakasih sepertinya tak urung kuucapkan. Hari-hari yang kita lalui untuk beberapa saat ini mungkin akan kita lalui dalam waktu yang lama atau mungkin akan segera berakhir. Aku tidak tau, jujur bahkan aku tak ingin tau. Menyesakkan...
Namun, ikatan yang sejati yang teruji itu langka. Dan akupun, tak ingin kita saling menjauh. Mungkin kita sedang menjalani arah yang berbeda, tetapi semoga itu tidak akan mengubah ikatan yang ada diantara kita. Ada bagiannya dalam diriku, dimana segala kenangan yang kita ciptakan bertempat. Saat-saat kita menangis dan mertawakan sesuatu tanpa malu, sedikit pertengkaran dan tawa yang melimpah.
Meski kita sedang menjalani arah yang berbeda, ketika hidupmu berubah kehidupanku pun berubah. Namun, kesediaan untuk menghargai segala aspek perubahan yang terjadi, semoga pula semakin menguatkan ikatan khusus kita. Apapun kehidupan kita nantinya, ingatlah selalu bahwa tidak ada hari dimana aku tidak memikirkanmu, medo’akanmu dalam sujudku, dan menyimpanmu ditempat istimewa dalam bagian hidupku.
Terimakasih telah berada disisiku dan membantuku melewati masa-masa sulit. Waktu untuk mengutamakan kepentinganku
Terimakasih telah menjadi dirimu sendiri, telinga yang memberikan kesediannya mendengarkan segala keluh kesahku bahkan segala sisi kekanak-kanakanku. Bersamamu aku tidak perlu menjadi siapa-siapa, berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku. Kau menerimaku apa adanya, segala apa yang kutampilkan.
Terimakasih atas segala kesempatan yang sempat aku rasakan
Jika pun harus ada air mata, maka biarlah ia menjadi teman sedihku untuk menyayangimu, jika ada rasa sakit mendera, maka biarkanlah ia menjadi teman setiaku dalam bertahan atas segala kejujuranku padamu. Jiwa tak akan pernah mengenal arti tegar jika ia hanya datar merasakan perjalanan hidupnya. Hati tak akan pernah mengerti rasa sakit, jika ia selalu bahagia, Maha Suci Tuhan Semesta Alam atas segala rangakaian hidup yang sempurna ini.
Sungguh aku bersyukur, sekalipun aku tak pernah utuh memilikimu, sekalipun utuh yang kau punya tak hanya untukku. Jangan tanyakan tentang kesedihan yang kau pun tahu, jangan bertanya tentang rasa sakitku, bila kau pun merasakannya.
Dimana aku bisa menemui hangatnya jemarimu mengusap semua peluhku? Ataupun sebaliknya aku yang mengusap peluh di wajahmu. Dan aku yang akan membelai lembut bahumu ketika kau goyah di jalan perjuanganmu bersamaku.
Dalam sujudku pada-Nya ku titipkan doa dan pintaku, semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak sampai padamu. Semoga kau selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika kasih dan sayangku tak mampu melampaui dimana kau berada saat ini.
Ucap terakhirku,semoga terbaca jelas dimata dan hatimu...”
                                                                                                                                                               

                                                                                                                                                                                                “TE”

Jumat, 28 Februari 2014

Februari Produktif!


Bulan februari sebentar lagi berakhir hanya dalam hitungan jam. Dua tahun terakhir bulan februari menjadi bulan yang sangat membosankan dengan libur panjangnya, libur akhir semester universitas. Pergantian semester ganjil menjadi semester genap ini memberikan banyak sekali waktu luang, waktu untuk mengunjungi tempat-tempat menarik, waktu untuk beristirahat dari segala rutinitas kampus, dan waktu untuk bersenang-senang dengan waktu. benar-benar februari yang mebosankan.

Tetapi februari tahun ini berbeda, bagi saya tidak ada lagi februari membosankan. Februari tahun ini saya sulap menjadi Februari yang penuh dengan karya, Februari Produktif!. Bukan sesuatu yang mencengangkan memang, hanya mengisi libur panjang dengan menghasilkan sesuatu yang bisa dianggap karya. Karena hal itu sudah dilakukan oleh banyak orang, dan memang seharusnya menjadi agenda wajib untuk tidak menyia-nyiakan waktu dengan percuma.

Mengisi blog pribadi dengan berbagai macam tulisan, itulah yang saya sebut sebagai Februari Produktif!. Mencoba mengabulkan impian masa kecil menjadi seorang penulis untuk mengisi libur panjang cukup menyenangkan, meskipun hanya menjadi konsumsi pribadi dan teman-teman terdekat.

Tidak mudah memang menjalankan misi Februari Produktif! satu bulan penuh. Tetapi saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk menjalaninya sendirian, seorang teman saya libatkan untuk menjadi pesaing sementara dalam menjalankan misi ini. Misinya mudah, hanya menjadi yang tercepat dan yang terbanyak memajang tulisannya di blog masing-masing. Untuk memotivasi, pemenangnya berhak mendapatkan apapun yang diinginkannya. Siapa yang akan memberikan? Dia yang kalah tentunya.

      Menulis memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Terkadang untuk meletakan satu huruf pembuka saja memerlukan berjam-jam bahkan berhari-hari lamanya. Awalnya sempat terfikir untuk menyempatkan menulis satu hari satu tulisan. Tetapi pada kenyataannya, bahkan sampai dipenghujung bulan pun hanya 12 tulisan yang terpampang disana. Dan akhirnya tulisan ini menjadi tulisan penutup Februari Produktif!. Menang atau kalah bukan tujuan utama, yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan kemenangan menjadi motivasi untuk menang. Dan yang lebih penting lagi, tidak ada waktu yang terbuang percuma.

        Orang-orang bijak berkata “istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk melanjutkan perjalanan yang lebih jauh lagi”. Jadi, tetap semangat Februari Produktif! dan bulan-bulan produktif berikutnya. Meskipun pada detik ini saya mengetahui blog tetangga sebelah sudah melebihi jumlah tulisan yang saya punya. ^^

Terimakasih untuk menjadi penyemangat dan menjadi pesaing yang baik :*

Rabu, 12 Februari 2014

Mati Lampu




Hai kawan jangan takut, jangan resah
Bila lampu kamar mulai dipadamkan
Ku kan s’lalu menyanyikan lagu ini
Hingga nanti kau tidur bers’limut mimpi

Masih ingat dengan petikan lirik lagu diatas? Yapp.. betul sekali. Lirik lagu diatas akan membawa kita untuk mengingat memori beberapa tahun tahun terakhir. Ketika si cantik tasya dan kakak-kakak Sheila On 7 membawakan lagu ini untuk menghibur anak-anak supaya tidak takut lagi terhadap gelap. Tapi ternyata bukan hanya anak-anak saja yang takut gelap, kebanyakan orang dewasa juga tidak bisa berlama-lama sendirian berada dalam kegelapan. Dan mereka para orang dewasa yang takut gelap biasanya memang merasa takut akan gelap sejak masih anak-anak.

Para psikolog menamai ketakutan ini dengan sebutan nyctophobia. Yaitu ketakutan yang berlebihan beraktivitas didalam kegelapan.

Saya termasuk orang yang tidak bisa diajak kompromi dengan kegelapan, seringkali saya merasa lumpuh ketika tiba-tiba mati lampu atau berada disuatu tempat yang gelap. Apalagi kalau harus melalui malam-malam gelap seorang diri dengan mematikan lampu kamar ketika tidur.

Sejak kecil saya memang tidak terbiasa mematikan lampu kamar ketika beranjak tidur. Dan ternyata kebiasaan masa kanak-kanak ini terbawa sampai sekarang, sampai saya merasa saya sudah dewasa. Bahkan keluar rumah pun rasa-rasanya saya enggan mematikan lampu kamar atau lampu rumah, saya takut kalau-kalau nanti pulang saya menemui rumah saya dalam keadaan gelap gulita.

Teman-teman kuliah sepertinya sudah mafhum dengan ketakutan saya ini. Apalagi teman-teman satu atap rumah yang sering sekali menjumpai saya berteriak kaget saat tiba-tiba mati lampu, atau hanya sekedar mencengkeram kuat-kuat baju mereka. Sedikit merepotkan memang, saya pun merasa ini terlalu kekanak-kanakan. Hanya saja, terkadang menghabiskan waktu dalam ketakutan akan gelap terasa begitu menyenangkan. Serasa kembali ke masa 15 tahun silam, begitu polos. Duduk meringkuk seolah-olah berada dalam timangan. Hanya tau bulan dan bintang akan lebih bersinar saat gelap datang.

“kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?” –Nishimura Kazuto- Ilana Tan



Laki-laki dan Poligami


Istilah poligami saat ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Dari remaja sampai yang tua, laki-laki perempuan, bahkan yang berpendidikan maupun orang awam sudah pasti mengetahui perihal fenomena unik ini. Sudah banyak sekali pembahasan mengenai hal ini, tapi lagi-lagi ada saja hal menarik yang bisa dijadikan pembahasan seputar poligami. Karena berbagai spekulasi tentu akan muncul dari berbagai versi.

Suatu waktu puluhan tanda tanya mengambang diatas kepala. “Apa sebenarnya yang ada dipikiran laki-laki ketika mereka memutuskan untuk menikah lagi (poligami)?” mencoba memposisikan diri sebagai laki-laki pun tidak membantu sedikitpun untuk menemukan apa gerangan sebenarnya. Karena pada dasarnya saya memang bukan seorang laki-laki, saya hanya seorang perempuan yang mencoba memandang  poligami dari sudut pandang laki-laki.

Beberapa waktu lamanya saya merenungkan jawaban atas pertanyaan saya sendiri, bahkan sesekali saya menanyakan kepada beberapa teman laki-laki yang notabene seorang mahasiswa. Jawabannya pun bermacam-macam, sedikit menggelitik memang. Namun, dari sekian banyak teman yang saya suguhi pertanyaan dengan berbagai macam jawabannya, ada satu hal yang selalu sama dan selalu saya temui saat melontarkan pertanyaan tersebut. Yang bersangkutan (red; laki-laki) akan berdiam sejenak, berkerut alis, barulah setelah beberapa saat hening mereka akan menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang menakjubkan. Entah jawaban apa yang mereka persiapkan dibelahan otak sana sebelum mereka lontarkan. Hanya saja, beberapa pertanyaan baru malah bermunculan. “apakah ini hanya sebuah jawaban naif?”

Kesalahan saya pada saat itu adalah menanyakan pertanyaan yang belum pernah dialami sendiri oleh teman-teman saya, jadi beberapa jawaban yang disampaikan pun tidak sealami yang saya inginkan. Mungkin akan lain cerita ketika saya menanyakan hal ini pada seseorang yang berniat melakukan poligami, atau bahkan yang sudah berpoligami.

Setelah melalui perenungan yang panjang, akhirnya saya menemukan jawaban yang sedikit membuka wawasan baru saya mengenai poligami. Tidak secara langsung memang, jawaban tersebut saya peroleh setelah membaca buku. Dalam buku “Catatan Hati Seorang Istri” milik mbak Asma Nadia hal ini dikupas secara mendalam. Pertanyaan yang sama disampaikan mbak Asma dalam bukunya pada catatan 1 yang berjudul “kalau saya jatuh cinta lagi”.

‘saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa yang ada dikepala mereka ketika menikah lagi?’ –Asma Nadia-

‘sejujurnya mbak Asma, hanya ada satu alasan inti kenapa laki-laki menikah lagi. Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan atau alasan lain. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik.’

Jawaban yang meyakinkan bukan? Dan saya kira memang begitu adanya kalau niat untuk menikah lagi benar-benar tulus seperti saat menikah yang pertama kalinya. Namun, ketika keinginan untuk menikah lagi ini didasari atas keinginan untuk menolong, karena kasihan atau alasan-alasan kemanusiaan lainnya itu beda cerita.

Untuk menyikapi perbedaan pendapat mengenai poligami, akan mustahil jika kita hanya melihatnya dari satu sisi saja. Maka dalam hal ini saya memberikan beberapa pandangan saya mengenai poligami dari berbagai sudut pandang.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan poligami jika dilihat dari sudut pandang laki-laki dan perempuan dalam hal duniawi dan ukhrowi.

Untuk laki-laki dalam hal duniawi poligami akan menguntungkan baginya. Dia bisa menikahi wanita manapun yang dia sukai, tapi bagi perempuan poligami akan sangat menyakitkan. Hidup dalam tekanan harus berbagi dengan wanita lain sungguh bukan sesuatu yang diharapkan oleh wanita manapun.

Tetapi poligami akan terlihat berbeda ketika kita melihatnya dalam hal ukhrowi. Bagi seorang laki-laki poligami merupakan tanggungjawab yang berat yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan di akhirat nanti. Bagaimana dia memperlakukan istri pertama dan kedua secara adil, serta bagaimana dia menjaga perasaan istri pertama dan kedua nya hal inilah yang akan dia pertanggungjawabkan nanti. Resiko yang sangat besar harus dia tanggung ketika memutuskan untuk berpoligami. Sedangkan bagi seorang perempuan, poligami merupakan salah satu ladang amal bagi dirinya. Dengan alasan berbakti dan ikhlas menerima suami berpoligami, bisa dia jadikan alternatif jalan menuju surga.

Jadi, mau seperti apa kita memandang hukum dan kebenaran poligami hendaknya kita kembalikan lagi pada pelaku dan pelaksana poligami, seperti apa mereka akan menjalani kehidupan nantinya. Dan bagi yang sama sekali belum mempunyai keinginan untuk berpoligami, saya sarankan untuk memikirkan dan merenungkan matang-matang sebelum menentukan pilihan. Semoga bijaksana dalam mengambil keputusan ^^

 “apa salahnya? jika suami diibaratkan teko...isinya boleh saja tumpah kemana-mana yang penting tekonya kan balik kerumah!”
Laki-laki
-Catatan Hati Seorang Istri-


Selasa, 04 Februari 2014

Negri Kucing


yang suka foto-foto ada? Yang suka liat-liat foto? Yang kalo liat foto wajah sendiri yang dicari ada? Hahaa ketauan.

Oke-oke itu Cuma prolog tapi pembahasan sebenernya memang nggak jauh-jauh dari itu juga sii. Hehe

Awalnya Cuma iseng aja liatin foto-foto kenangan di laptop. tapi lama-lama imajinasinya kemana-mana. gara-gara kebanyakan liat foto. fotonya macem-macem, mulai dari foto jaman bayi, foto SMA, foto-foto kegiatan, sampai foto curian pun ada. Hee.. kalo pas liat foto bareng-bareng yang dicari duluan mesti fotonya sendiri. Nahh kalo kebetulan fotonya sendiri jelek mesti ujung-ujungnya ‘delete’, atau kalo nggak foto yang nggak ada fotonya sendiri mesti di ‘skip’. Cepeeeet banget mencetnya. :D

Gara-gara ini niih jadi tiba-tiba gitu inget sama wali kelas SMA dulu. Katanya, ciri-ciri orang egois itu kalo liat foto mesti yang dicari wajahnya sendiri dulu. -_- *iya oke saya egois* tapi kalo kalian perhatiin niih ya, nggak dikit kok yang sama egois nya begitu. Dan parahnya nggak Cuma terjadi di foto aja. Kalo nonton tv ada berita dari kota kelahiran, tu kuping mesti jadi panjang. Matanya juga nggak lepas mantengin tv nya kira-kira ada berita apa. Nggak taunya yang muncul berita kriminal :P

Ada juga pejabat yang dulunya jadi tetangga sebelah, dibangga-banggain tiap cerita. Padahal yang dibanggain pejabat korup -_-

Miris kan?? :’(

Iya emang begitu keadaannya. Udah membudaya, udah susah buat diilanginnya lagi. Fenomena begini udah nggak asing lagi, semua kalangan mesti mengalami. Dari anak-anak, remaja, mahasiswa, sampai orang tua.

Pengalaman nggak enak yang pernah saya alami ya pas jadi mahasiswa sekarang ini. *mungkin otaknya baru nalar jadi baru sadar, padahal dari dulu-dulu udah banyak pengalaman begitu* kejadiannya pas pemilu raya dikampus. Calon-calon yang dipilih mesti yang punya hubungan deket, kenal ataupun nggak kenal. Contohnya begini, ada 3 calon. Kita sebut aja si A, B, dan C. Si A dari fakultas 1 si B dari fakultas 2 dan si C dari fakultas 3. Di TPS nya fakultas 1 paling banyak mesti suara dari si A. Begitu seterusnya...

Padahal kan milih pemimpin nggak kayak milih kucing dalem karung ya? Kudu bener-bener mumpuni. Nggak asal kenal, nggak asal gengsi, nggak asal buat kepentingan pribadi.
Nahh.. itu baru pemilu kampus. Coba, 63 hari lagi kita pemilu buat pemilihan presiden. Apa jadinya kalo presiden kita samain kayak kucing, dipilih asal-asalan. Asal deket, asal temen sekolah. Ya jadinya negri kucing, isinya Cuma kucing-kucing mengeong yang maunya di elus-elus.

Kalo kita pilih presiden asal-asalan begitu. Bisa-bisa yang jadi presiden kita besok bener-bener  temen deket kita. Si pencuri duit rakyat :D

Duuuuhh...!! ini ngawur

ilustrasi : dari sini

Have You Ever?




Pernah tidak? Merasa bahwa kamu menyesal menjalani keputusan yang telah kamu ambil. Terlepas keputusan itu baik atau buruk, terkadang seketika kamu merasa bahwa keputusan tersebut berdampak tidak baik pada kehidupanmu setelahnya. Kondisi yang kamu jalani tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan atau bahkan sampai menjadi beban mental tersendiri untukmu.

Wajar memang ketika sebuah penyesalan tiba-tiba datang dan membuyarkan semuanya. Bahkan pernyataan ‘penyesalan selalu datang di akhir’, saat ini seolah-olah memang sudah paten. Pada kenyataannya penyesalan memang selalu datang di akhir, setelah menimbang dan merenungkan kembali peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi pasca pengambilan keputusan. Seperti slideshow yang mengawang diatas kepala.

Pepatah mengatakan ‘daripada berteriak gelap, lebih baik berjalan menyalakan lilin sebagai penerang’. Memang benar adanya, daripada kita menyesali apa yang sudah terjadi lebih baik kita bangkit kembali, berfikir untuk mencari alternatif lain yang bisa kita jadikan manuver agar kita bisa keluar dari kubangan penyesalan.

Tentang penyesalan, apa sebenarnya penyebab dari penyesalan itu sendiri?. Tentu karena kamu merasa tidak bahagia sekarang. Percayalah bahwa apapun keputusan kita, yakini bahwa itu yang terbaik. Yang terjadi saat ini akan membawamu pada apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Berbahagialah atas apa yang kita jalani sekarang, bersyukur akan membuat kita merasa cukup. ^^

Takdir terselip diantara pilihan, dan terjadi ketika pilihan ditentukan. Bahwa tuhan menempatkan kita ditempat kita sekarang bukan karena sebuah kebetulan

Minggu, 02 Februari 2014

Si Manis Makanan ‘superhero’



Pernah mendengar gula jawa harus menjadi bawaan wajib saat pendakian? Nahh bagi yang belum tau bahkan belum pernah mendengar coba perhatikan tulisan saya berikut ini.

Awalnya terdengar aneh memang ketika salah satu teman mendaki menyarankan membawa gula jawa sebagai bekal untuk pendakian saat itu. Dalam hati bertanya-tanya, tapi tetap saya iyakan saran teman saya. Pun tidak ada salahnya

Sepanjang perjalanan saya masih memikirkan apa gerangan sebenarnya kelebihan makanan manis ini. Padahal saya rasa makanan yang manis akan membuat kita cepat haus sehingga persediaan minum selama mendaki akan cepat habis. Rasa penasaran yang besar akhirnya mendorong saya untuk mencicipi manisnya si gula jawa, saat itu kira-kira sudah setengah perjalanan. Ditengah nafas yang terengah-engah, tenggorokan kering serta letih karena beban bawaan yang terlalu berat saya menghabiskan satu biji gula jawa. Tak seenak coklat memang, tapi cukup untuk dijadikan cemilan sebagai penghibur jarak. Lama saya menyadari bahwa perjalanan sebentar lagi sampai pada puncaknya. Saya benar-benar melupakan jarak dan tidak terasa letih telah mencapai perjalanan sejauh itu. Hanya saja saya masih bingung, kenapa dan bagaimana.

Barangkali begini, berbekal ilmu pengetahuan yang saya pelajari di SMA dulu bahwa gula jawa mengandung glukosa yang tinggi. Seperti yang kita ketahui, dalam proses respirasi melalui serangkaian reaksi terkatalisis enzim, glukosa teroksidasi sehingga membentuk karbon dioksida dan air yang menghasilkan energi terutama dalam bentuk ATP. Seperti itulah kira-kira mengapa gula jawa sangat diperlukan saat pendakian.

Barangkali, hal ini pulalah yang menyebabkan semut dinobatkan menjadi hewan yang kuat seperti ‘superhero’, mampu mengangkat beban yang berkali-kali lipat lebih berat dari tubuhnya. Karena semut sangat menyukai makanan-makanan yang manis.


Sabtu, 01 Februari 2014

Aku Semut dan Pagi Itu

Secangkir teh manis masih berada ditempatnya, dimeja kecil dekat pintu toko. Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk lekas meminumnya. Sedetik kemudian saya hanya termangu, menatapi cangkir kaca dihadapan saya. Keinginan untuk menikmati hangatnya teh manis yang masih separuh cangkir pun serasa sirna, saya hanya berkerut dahi memandangi teh manis dihadapan saya. Ada sekumpulan semut kecil yang berenang-renang didalam cangkir teh saya, seperti korban kebanjiran yang akhir-akhir ini ngetop diberitakan melebihi artis sungguhan. Lama saya mengamati pergerakan si semut yang bila diartikan akan jadi begini : “ eee.. tolong dong angkat gue. Ntar kemanisan nii gue kelamaan disini.” Sampai akhirnya mereka menjadi mayat-mayat manis bergelimpangan didalam cangkir.


Niat menikmati secangkir teh manispun kembali urung, bukan karena mayat-mayat se semut tentunya. Ada hal lain yang mengusik pikiran saya, betapa mirisnya nasib si semut yang mati dalam kubangan kesenangannya sendiri. Kita semua mengetahui semut menyukai sesuatu yang manis, tetapi dalam kasus ini sungguh tidak lucu ketika semut akhirnya mati didalam secngkir teh manis. Hal yang sangat mereka sukai. Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka saat itu, mungkin mereka merasa senang atau bangga mati dikelilingi kenikmatan yang sangat mereka sukai. Hanya saja, saya sebagi manusia normal tentu memiliki prasangka buruk terhadap si semut-semut tadi, saya berfikir mereka terlihat serakah dan arogan ketika mati menjadi mayat-mayat manis seperti itu. Bagaimana tidak, si semut tidak perlu sebodoh itu mengorbankan dirinya tenggelam dalam lautan teh manis, mereka cukup mengecap-ngecap pinggiran cangkir mungkin. Jadi sampai saya memegang brownies sekarang ini, mungkin mereka masih bisa menikmati manisnya saya dan kue brownies.

Tapi lagi-lagi ini hanya sebuah pendapat dan ilusi fiktif saya. Yang pasti dan perlu kita ketahui adalah jangan sampai kita terjerumus karena kesenangan kita sendiri, karena kita terlalu menyukai sesuatu sehingga kita terlena dan terlupa akan diri kita sendiri.

Sekian pelajarn yang kecil dari semut kecil dan dari penulis kecil. Semoga bisa membawa makna dan perubahan yang besar.



Terimakasih dan sampai jumpa ^^

Minggu, 08 Desember 2013

Monster Kecoa


Ada yang takut kecoa?? Saya rasa banyak. Hehe

Seperti yang kita tahu, kecoa biasa kita jumpai di dinding-dinding kamar mandi, dapur, gudang bahkan di tempat sampah. yaaa..mereka memang menjijikan. Tapi siapa mengira kalau hewan  ini ternyata mempunyai kekuatan yang menakjubkan. Jadi, Bagi yang belum tahu banyak mengenai seluk beluk kecoa, jangan buru-buru membenci hewan mungil ini. Mari kita lihat dulu apa yang patut kita banggakan dari si monster kecoa. Hehe

Kecoa Bisa Hidup 9 Hari Tanpa Kepala

Bayangkan bagaimana kita hidup tanpa kepala? Tanpa makan bahkan bernafas? Tentu hal ini akan mustahil bagi manusia. Tanpa kepala sama dengan mati, hal ini tidak berlaku bagi kecoa. Bagaimana bisa? Bagaimana mereka bisa bernafas tanpa kepala? Bagaimana mereka bisa makan tanpa kepala? Oke oke kita bahas satu persatu. -_-

Yang pertama, bagimana kecoa bisa bernafas tanpa kepala? Jawabannya adalah bahwa mereka bisa bertahan tanpa kepala karena mereka bernafas melalui saluran lubang kecil disetiap bagian tubuhnya. Mereka tidak bernafas melalui hidung seperti manusia, lagipula otak kecoa tidak bertugas untuk mengontrol proses pernafasan.  Mereka juga tidak memiliki jaringan pembuluh darah atau pembuluh darah kapiler kecil yang membutuhkan tekanan darah untuk mengalirnya darah. Beberapa saat setelah kepala kecoa terlepas dari lehernya, leher kecoa akan tertutup oleh semacam gumpalan sehingga tidak akan terjadi pendarahan pada kecoa. Jadi, sudah wajar kalau kecoa bisa hidup sekitar 9 hari tanpa kepala.

Yang kedua, bagaimana kecoa bisa makan tanpa kepala? Jawabannya tentu ngawur kalau kecoa bisa makan tanpa kepala. Yang benar adalah bahwa kecoa bisa bertahan hidup meskipun tanpa makan selama kurang lebih 9 hari karena kecoa adalah hewan poikilotherms. Hewan poikilotherms adalah hewan berdarah dingin, yang artinya mereka membutuhkan lebih sedikit makan daripada manusia. Bahkan serangga ini bisa hidup berminggu-minggu hanya dengan makan sehari saja.

Kecoa Penghasil Antibiotik Alami

            Didalam otak kecoa terdapat 9 senyawa kimia yang berfungsi sebagai antibiotik terhadap bakteri. Sembilan senyawa tersebut bisa melumpuhkan 9 bakteri yang berbeda, karena senyawa tersebut akan sangat beracun terhadap bakteri. Akan tetapi senyawa-senyawa tersebut aman bagi sel-sel manusia, justru bisa melumpuhkan juga bakteri E-colli. Meski aman, penggunaan antibiotik kecoa terhadap manusia masih perlu penelitian lebih lanjut lagi oleh para ahli.

            Dengan dimilikinya sistem pertahanan tubuh yang baik, sangat memungkinkan bagi kecoa untuk tetap sehat dan hidup ditempat yang paling kotor sekalipun. Dan tidak mengherankan lagi kalau kecoa kita juluki sebagai monster yang tidak mudah untuk dimusnahkan. Hehe

            Demikian beberapa ulasan tentang betapa menakjubkannya hewan yang lagi-lagi disebutkan sebagai hewan  menjijikan. Mereka  ternyata memiliki kegunaan luar biasa. Semoga ulasan tersebut diatas sedikit banyak bisa menggeser anggapan anggapan jahat kita terhadap serangga mungil ini. :D


NB : kecoa biasa dijadikan sebagai senjata ampuh PDKT untuk menakut-nakuti gebetan. Dilarang coba-coba bagi cowok penderita phobia kecoa akut.  Supaya tidak berakhir dengan mengerikan...!!! :P :D