Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS
Tampilkan postingan dengan label UNNES kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNNES kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2014

Pondok Kopi Umbul Sidomukti Semarang



Masih bersama sammy, kali ini jalan jalannya ke pondok kopi di umbul sidomukti semarang. Sebenarnya kami sudah pernah kesana sebelumnya, tapi karena saat itu pondok kopi dipenuhi pengujung alhasil hari itu kami hanya duduk duduk saja menikmati asrinya sekotak semarang yang sejuk.

Dan kali ini setelah puas berfoto-foto di brown canyon kami mendapat undangan bersama teman teman satu jurusan untuk menyejukkan fikiran di pondok kopi umbul sidomukti. Lagi-lagi salah kostum, karena dari brown canyon belum sempat pulang untuk mengganti pakaian. Alhasil saya ke pondok kopi hanya mengenakan blazer pink unyu tanpa jaket. Jika sebelumnya saya kepanasan, maka kali ini sebaliknya. Saya kedinginan
Pondok kopi umbul sidomukti ini terletak dibawah kaki gunung ungaran dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl.pada ketinggian ini bisa dibayangkan betapa kedinginannya saya saat itu. Tapi bersyukur sammy yang baik hati meminjamkan jaketnya untuk saya.

Tempat ini lokasinya tidak jauh dari tempat wisata umbul sidomukti. Cukup naik sekitar 500 meter maka kita akan menemukan restaurant yang bernama pondok kopi. Bagi yang suka mendaki gunung, pondok kopi juga terletak tepat dibawah base camp mawar, base camp nya pendaki gunung ungaran.

Pemandangan yang indah membuat tempat ini menjadi tempat nongkrong para anak gaul semarang yang bosan dengan bisingnya kota. Tempatnya pun nyaman dengan 3 spot tempat duduk, didalam ruangan, di teras, dan di halaman samping. Benar-benar suguhan yang sangat menkajubkan. Menu yang menggoda selera dan pemandangan yang memanjakan mata.

Sayang sekali dua kali bertandang kami tidak mengantongi banyak foto-foto dari pondok kopi.








Semoga menjadi rekomendasi tempat wisata yang menarik. Happy travelling ^^

Sabtu, 16 November 2013

(dari bapak dan ibu) Mahasiswa bukan perawat, tukang parkir ataupun juru kunci


Dari bapak dan ibu


Tanggung jawabmu...
Memenuhi permintaanku
Baktimu...
Bukan untuk menentang perintahku

Kau bukan perawat
Yang setiap malam terjaga untuk pasiennya
Kau bukan tukang parkir
yang akan menjaga setiap detil kendaraan titipannya
bukan juga kau seorang juru kunci
yang akan tau segala hal saat kau mengawasinya

tapi kau mahasiswa
memikul tanggung jawab ditanah rantau
pada nilai dan rutinitas mahasiswa pada umunya
bukan perawat, tukang parkir dan juru kunci
yang hanya sibuk dengan orang tuanya

Pergilah nak,,
Meski tanah rantau itu keras tak mudah dijajaki
Pergilah nak,,
Meski rutinitas membosankan memaksamu berpaling
Pergilah nak,,
Meski tugasmu berat untuk kau tunaikan

Itulah tanggung jawab
Tanggung jawab sesungguhnya seorang mahasiswa

Selasa, 02 Juli 2013

Selo, Boyolali. Merajut Selimut Kenangan

Eksotika Selo '2011


huwaaaahhh... selalu rindu kota ini. Si Kota sapi. hehe

Mari berkenalan dengan Selo.
Selo merupakan salah satu dari 19 Kecamatan/Kota di Kabupaten Boyolali. Terletak diantara celah kaki gunung Merapi dan Merbabu membuat daerah ini rentan terhadap bahaya letusan gunung berapi. Namun, hal ini tidak membuat Selo menjadi sepi atau tak berpenghuni, bahkan Para pendaki biasanya akan memulai pendakian dari kota ini. 

Kota yang terletak di dataran tinggi sebelah barat Boyolali ini banyak menghasilkan berbagai jenis  sayuran, terutama Kobis atau Kol. Selain itu, banyak juga tumbuh disana tanaman Tembakau yang menghiasi setiap ladang-ladang disepanjang jalan. Selain Kol dan Tembakau, ada pula yang khas dari Kota penghasil Susu ini. Yaitu, Adas. Adas merupakan tanaman musiman yang cocok dijadikan pecel. Tumbuhan ini tak kalah menjamurnya bila dibandingkan dengan Kol ataupun tanaman Tembakau. 
Tanaman Adas


nah.. itu tadi sekelebat tentang kota Selo.

Sebenarnya ada sesuatu yang lain yang menjadikan kota ini istimewa. Kenangan, ya kenangan. Kota ini menyimpan begitu banyak kenangan selama masa perkuliahan di UNNES Semarang. Saat belum banyak yang saya tahu tentang kampus yang orang bilang kampus Konservasi ini, saya lebih dulu diperkenalkan dengan eksotikanya Kota ini. Kota Selo. Bagaimana menusuknya fajar di sudut kota ini, bagaimana menariknya kebudayaan disetiap jengkal kota ini, bagaimana renyahnya keramah tamahan penduduk kota ini, serta bagaimana syahdunya dipenghujung malam kota ini. Semua itu tak bisa terlupakan seandainya betapapun kerasnya saya mencoba melupakan. Kota ini menjadi tumpuan sejarah bagaimana warga jurusan Bahasa dan Sastra Asing menunaikan ritualnya, ritual mengakraban setiap manusia didalamnya. Dan tempat inilah yang menyimpan rekam jejak Malam Pengakraban itu, malam di bulan September 2011 silam.
Persiapan Makrab BSA 2011

Masih belum cukup sampai disitu, ditahun 2012 saya kembali menjajaki kota Selo sebagai tempat pengakraban. Acara yang belakangan alih nama menjadi GAMA atau Gathering Mahasiswa baru BSA ini masih belum menunjukan sisi bosan di kota ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya saya yang masih lugunya menjadi peserta, ditahun 2012 saya sedikit naik pangkat menjadi panitia. Saya mendapat tugas mensejahterakan kehidupan para ‘imigran’ dari  semarang mejadi kepala sie Unit Penanggulangan Lapar, atau dengan kata lain Sie Konsumsi. Disini, tenaga dan otak saya benar-benar terkuras. Bahkan tidak sedikitpun bergabung dalam acara. Beruntung, saya dengan dibantu dengan kelima member saya yaitu Enggar, Dhita, Nia, Ro’is, dan Mas Rahmat benar-benar berhasil mensejahterakan mereka. Suatu kepuasan dan kehormatan tersendiri bagi saya meskipun tidak sepenuhnya merasa mengikuti acara.
Serba-serbi GAMA BSA 2012

Dan tahun ini, sepertinya pun kedua masa itu akan terulang kembali. Kenangan-kenangan indah di Kota Selo akan dirajut menjadi selimut tebal BSA. Selimut yang akan dijadikan sebagai penangkal dingin dimanapun kita berada. Selimut kenangan dari selo, sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali tersenyum. Semoga ini bukan yang terakhir kalinya, mari realisasikan GAMA 2013.


Karena kenangan tetaplah kenangan
Kenangan yang sejatinya adalah sebuah memori episodik yang tersimpan rapi

Kenangan pun datang bersama-sama dan terikat
Layaknya Hippocampus yang terselip rapi dibelahan otak sana
Seperti sedang mengumpulkan tangkai-tangkai bunga, merangkainya menjadi satu untuk sebuah bucket.

Itulah kenangan....







Api Unggun di Bumi Selo '2011
Live Performing '2011
Fajar di Ufuk Selo '2012
Mari Senam Pagi :)
Outbond GAMA BSA 2012

Minggu, 30 Juni 2013

jurusan yang terabaikan



Terlalu banyak cerita yang terlewatkan...:i:

Ada begitu banyak rekam jejak selama 2 tahun menimba ilmu di almamater tercinta UNNES yang terlewatkan begitu saja. Esok pagi, tak terasa sudah harus kembali berpacu memutar otak untuk menempuh Ujian Akhir Semester menuju semester 5. Hemm.. sudah mau punya dua adik ternyata. Yang artinya, sebentar lagi bakal jadi mahasiswa tertua yang majang di kampus. huwwaaaa :m:
saya masih betah woy jadi maba. :k: #plaaaakkk


so??? mau bagaimana lagi??? usia sudah bertambah, semester pun ikut bertambah. tapi ilmunya??? #nambah nggak ya??? :m:

hffffhhhh... susah memang menjalani apa yang bukan menjadi keinginan. tapi banyak orang yang bilang, sudah terlanjur basah ya berenang. memang, seperti itulah adanya saya sekarang. tapi apa mau dikata, sepertinya si ilmu tak jua masuk ke otak. mungkin otaknya yang kekecilan atau mungkin ilmunya terlalu gede sampe2 sedikitpun nggak mau mampir ke otak. :i: udah kaya gajah masuk kulkas aja. :m:

dari awal, keinginan saya yang sebenernya adalah masuk akademi kebidanan. atau apalah yang berhubungan sama suntik menyuntik dan bikin orang pusing gara2 kebanyakan obat. dan berhubung dari kebidanan nggak dibolehin, larilah ke keguruan. dan alhasil sudah bisa ditebak, taraaaa.... saya bingung waktu itu. hiks,,
antara masuk dunia seni menyeni, biologi, teknik kimia, seni tari, seni musik, seni rupa, sastra jawa sastra indonesia. dan akhirnyaaaaa... kejeblos juga di Pendidikan Bahasa Arab UNNES, jurusan yang banyak orang bilang jurusan yang terabaikan. :i: 
aneh memang. tapi aku juga nggak habis pikir ,, kesambet malaikat apaan waktu itu sampe nentuin pilihan di bahasa arab. :j:

nggak pernah nyesel sii.... cuma, masih belum bisa aja ngikutin semua pelajaran di kampus. belum bisa juga ngikutin semua pola pikir dosen-dosen yang berbeda. Bismillah semoga bisa, Bismillah semoga nggak sia-sia.  karena...katanya ni, "menyerah berarti sama saja membunuh dan menghapus cita-cita mulia yang telah kita canangkan

semoga dengan jalan ini Allah membawa kita menuju cita-cita yang sesungguhnya :l:



Senin, 28 Januari 2013

IP ku 3,18. antara E dan K pilih yang mana...???



3,18...???????!!!! sontak siapapun yang mendengarnya pasti akan terperanjat. Bagaimana tidak, deretan angka tersebut adalah IP saya semester ini, semester 3 di prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA)Universitas Negeri Semarang (UNNES). Sebenarnya angka tersebut tidaklah terlalu mengejutkan bagi mahasiswa lain selain mahasiswa Prodi yang sedang saya geluti saat ini, pasalnya IP diatas 3 masih dianggap wajar-wajar saja atau bisa dibilang cukup untuk seorang mahasiswa. Tetapi, hal itu berbeda dengan kenyataan.
IP 3.18 di Prodi saya sudah termasuk dalam jajaran IP terendah, dan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang (PBJ), Prancis (PBP), dan Mandarin (PBM) yang masih dalam satu naungan jurusan yaitu Jurusan Bahasa dan Sastra Asing (BSA)pun sudah mafhum akan hal itu, karena sudah bukan barang aneh lagi ketika Mahasiswa PBA mendapat IP dan Nilai yang tinggi. Entah karena mayoritas mahasiswa nya yang benar-benar menguasai bidangnya atau karena ‘kemurahan hati’ dosennya saya tidak tau. Yang jelas saya sedikit menikmati keberuntungan ketika nilai saya tinggi, tetapi tidak bisa dipungkiri lagi bagaimana kecewanya ketika mendapatkan nilai ‘rendah’, ya seperti inilah rasanya. karena masalah tersebut, Tidak jarang temanku dari Prodi Prancis melontarkan protes kerasnya padaku. “kalian tu ya, dapet IP masih diatas 3 aja udah sambat, belum pernah tho dapet IP 2,... 1,... atau 0,...??? ya jelas lah. Wong dosen kalian itu baik hati kok, nggak pernah kasih nilai jelek. Nggak kaya PBP atau PBJ.” PBM tidak disebutkan saat itu karena umurnya yang masih terlalu pendek,dan  baru satu tahun sehingga tidak terlalu mendapat sorotan.
Saya sering berfikir, Ahk..sebenarnya tak baik bertahan karena belas kasihan, hal itu akan membuat kita menjadi manja dan tidak sadar akan kemampuan kita sendiri, karena terbiasa dengan nilai yang bagus. Hal itu juga akan memunculkan kekecewaan yang amat sangat ketika sedikit saja nilai yang biasa ‘nyingkrik’ lengser dari singgasananya.
Pernah suatu ketika saya mendapati kakak angkatan di PBA menyesalkan nilai yang didapatnya. “Ya Allah.... sepertinya saat Mata Kuliah Qiro’ah Basithoh (membaca) saya fasih membaca, dengan intonasi yang benar dan lancar. Saya tidak terima kalau nilai saya Cuma AB” begitu katanya dengan nada yang semakin meninggi.
Jedddeeerrr...!!!!  hal itu sontak membuat saya sedikit menahan rasa kesal. Bagaimana tidak nilai, AB  adalah nilai yang cukup baik, satu tingkat dibawah nilai sempurna. Kok ya masih saja disesalkan, benar-benar tidak ada rasa bersyukurnya sedikitpun. Bagi saya yang tidak begitu menguasai bidang yang saya geluti saat ini yaitu Bahasa Arab, hal itu merupakan cambuk yang sangat menyakitkan. Saya setengah mati mendapatkan nilai baik. Ehk... kok yang lain pada ogah-ogahan dapet nilai AB.
Ya... barangkali itu pula yang teman-teman prodi lain rasakan. Mungkin kesan itulah yang muncul dibenak mereka, “tidak bersyukur” terhadap apa yang didapat.
Kembali pada IP 3.18, sampai detik ini pun saya masih membingungkan apa yang menyebabkan IP saya turun begitu jauh dari yang semula 3.46. padahal saya rasa semester ini usaha saya lebih ekstra dibanding dua semester sebelumnya, tetapi pada kenyataannya IP saya semseter ini malah lebih pantas menyandang predikat IP terendah sepanjang sejarah perkuliahan saya.
Tetapi seperti apa yang saya katakan diatas, saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang tidak bersyukur. Saya tidak ingin ambil pusing pada apa yang saya dapatkan saat ini. Bagaimana tidak, betapa saya benar-benar merasakan perjuangan mendapatkan IP 3,18. Betapa saya dengan bayang-bayang ketakutan mendapatkan IP jauh dibawah itu. Dengan hal ini, saya patut bersyukur.
Sebelum yudisium tanggal 25 Januari 2013 kemarin, saya sempat ‘mengintip’ IP dan IPK saya di laman pplunnes.ac.id, saat itu baru nilai 14 SKS dari total 22 SKS yang di input. dan IP saya hanya 3,12. Ya... 3.12 ketika itu saya masih memiliki waktu 3 hari lagi sebelum yudisium, yang berarti hari itu tepatnya tanggal 22 Januari 2013. Selama itu, dalam setiap selesai sholat terselip disana do’a untuk IP saya yang malang. “ya Allah,, selamatkanlah IP saya dari ambang kehancuran.” (maksud saya adalah jangan sampai turun menjadi 2,..) saat itu saya takut IP saya akan turun ketika nilai yang lain masuk. Pasalnya tugas akhir mata kuliah Bimbingan dan Konseling saya ditolak mentah-mentah oleh dosen tercinta (untuk kronologi lebih lanjut peristiwa ini pernah saya post. Silahkan dibaca “ditolak dosen”) Nah.... baru saya ingat, ternyata penolakan tugas akhir itu sedikit banyak mempengaruhi IP saya semester ini, hal itu pulalah yang menahan kepulangan saya karena ketakutan saya mendapatkan nilai K. Dan do’a pun berlanjut. “ya allah... saya tau sungguh tidak pantas saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah BK yang tanpa nilai tugas akhir, tapi saya juga tidak berharap mendapat nilai lebih rendah dari B, Minimal B. Atau kalau tidak, K pun tidak masalah asalkan saya bisa mengurus dan memperbaiki nilai saya meski dengan ganti tugas yang mungkin akan lebih berat dari tugas akhir saat itu” penawaran pun saya lakukan. Apa boleh buat, hanya itu usaha terkakhir yang bisa saya lakukan.
2 hari berlalu, terbersit ide iseng membuka akun jejaring sosial. Disana terpampang tulisan-tulisan yang lebih mirip disebut sebagai ‘sampah’ karena saking banyaknya, ya ‘sampah pikiran’ yang harus dibuang. Dan facebook lah korban utamanya. Mulai dari “Alhamdulillah,, IP ku udah tumbuh. Udah nggak imut-imut lagi” yang artinya IP nya lagi naik. Atau “percuma aja dapet A kalau juga dapet C. Sama aja bo’ong....kecewaaaa >,<” dengan emoticon yang lebih menyeramkan dari wajah aslinya. Atau juga “nggak merasa belajar apa yang saya pelajari” bentuk ketidakpuasan yang mendalam. Ada lagi “syukuri apa yang ada. Meski tak begitu memuaskan, semester depan harus lebih baik,, semangat” status yang sama pada yudisium-yudisium sebelumnya. Oops, tunggu. Nilai A, nilai C??? Sudahkah nilai bisa dilihat??? Secepat kilat saya membuka tab baru dari jejaring sosial menuju SIKADU dan pplunnes.ac.id, hasilnya NIHIL. Masih sama seperti 2 hari yang lalu. Tapi darimana datangnya nilai A dan nilai C??? Saya mencari rujukan yang terpercaya kesegala penjuru. Dan akhirnya, ditemukanlah cara ‘mengintip’ IP sebelum yudisium. Cara yang sedikit aneh, membuka akun facebook dan sikadu berbarengan. Membuka tab baru lagi dan masukan alamat on.fb.me/10GVZ5Q pada address bar Dannnn.... IP saya 3,18. Ya Allah, sungguh tidak bisa dipercaya. Allah Tuhanku memberikan ma’unah nya, ma’unah yang saya harapkan selama 2 hari ini. Tapi perjuangan belum selesai, Pencarian pun berlanjut. B,B jariku terhenti pada baris ke dua. Lebih tepatnya pada mata kuliah BK, dan nilai saya B besar (sengaja saya buat besar pada tulisan ini). Lagi... Allah memberikan ma’unahnya kepada saya, setelah sebelumnya saya rasakan pada perjalanan panjang saya memasuki almamater tercinta UNNES pada postingan “carilah pintu lain ketika satu pintu tertutup” dan baru saja pada postingan ini sebelum mendapatkan IP 3,18. Subhanallah, Allahu Akbar.... dan kali ini giliran saya yang sama ababilnya dengan mahasiswa lain, mengadu di jejaring sosial. “bukankah ma’unah yang diharapkan masih diberikan???? Tidak perlu merasa sedih bukan????? J
Ya... saya tidak perlu merasa sedih dengan IP seminim itu dibanding dengan teman-teman mahasiswa  PBA lainnya. Saya tidak perlu protes dengan nilai yang dipenuhi dengan huruf B dan AB tanpa huruf A pada semseter ini. Sebaliknya, saya perlu bersyukur. Dengan keterbatasan saya, saya mendapat IP 3,18 angka yang tinggi menurut mahasiswa lain dengan IP lebih rendah dari saya. Dan Dengan penawaran terkahir saya pada Allah Rabb ku, saya diselamatkan dari menyedihkannya IP 2,.. dan nilai dibawah B atau mendapatkan K. Apalagi yang perlu disesali??? Apa yang membuatku harus bersedih??? Bukankah semua do’a telah Allah kabulkan??? Bukankah semua yang saya harapkan telah Allah berikan??? Sekarang hanya tinggal merelisasikan rasa syukur, dengan berusaha mendapatkan pencapaian yang lebih baik dari saat ini. J
wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja” Dan siapa yang bertakwa kepada Allah maka dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.

Ditolak Dosen



“Sekarang tanggal berapa??? Ya sekarang lah...!!!” begitu pertanyaan yang dijawab sendiri oleh dita, temanku satu Prodi di Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UNNES. Sebaris kalimat itu serasa petir di pagi buta yang begitu mengejutkanku. Bahkan aku Belum sempat memikirkan jawabannya, dita sudah berlalu meninggalkanku dan ruang kuliah mata kuliah Evaluasi Pengajaran Bahasa Arab pagi itu. “mau kemana?” teriakku ditengah hiruk pikuk  perpindahan jam kuliah mahasiswa yang berebut jalan di gedung sempit ini menuju tujuannya masing-masing. “ngeprint tugas!!” jawabnya tergesa-gesa.
Aku begitu bodoh saat itu, bahkan tanggal berapa batas akhir pengumpulan tugas akhir BK aku lupa. Atau melupakannya??? Dan tugasku belum rampung.!!!  Ah entahlah, Yang jelas aku tak mengingat apapun. Secepat kilat aku pun berlalu menuruni anak tangga gedung B4 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNNES. Setibanya di serambi gedung imut ini, petir  pagi buta masih belum bosan mengagetkanku. Di gazebo sana, kulihat kerumunan orang-orang yang memperhatikan dengan seksama jalannya kampanye dialogis ketiga calon ketua HIMPRO BSA. Dalam hati aku mengumpat “aishhhh... kenapa semua yang penting harus bersamaan sih!!!” kalimat yang lebih cocok menyandang tanda tanya itu kububuhi dengan tanda seru untuk mengexpresikan betapa kesalnya aku saat itu.
Ditengah perdebatan batin antara setan dan malaikat, antara tugasku di kampanye dialogis dan tugasku pada mata kuliah BK aku berteriak sekencang-sekencangnya didalam hati. Akhirnya kuseret langkah kakiku menuju gedung B1 FBS UNNES tempat dimana sebentar lagi hidup dan mati nilai BK ku dipertaruhkan. Ya,, disitulah tempat kuliah BK rombel 34 berlangsung.
Kulirik jam di hape menunjukan pukul 09.12 WIB, semakin kupercepat seretan kakiku menuju gedung B1. Tiba di ruang 206 langsung kulempar tubuhku pada kursi kayu mungil, kupandang wajah innosence dosenku. “oh no.... dosennya mana??? Belum dateng po???” tanyaku heran pada teman sebelah yang entah siapa namanya. Terang saja aku begitu heran ketika dosenku itu belum datang sampai sekarang, bukan tabiat beliau datang terlambat. Lagi-lagi aku mengumpat dalam hati “tiwas mlayu nggendring, dosenku belum dateng. Atau malah nggak dateng???” tetapi sesaat kemudian muncul sedikit kelegaan dalam hatiku. Pasalnya, masih ada kesempatan untukku merampungkan tugas yang tertunda.
Lama kutunggu hingga jam 10.00 WIB, dosenku belum datang. Bahkan, komting pun tak terlihat batang hidungnya. “apa-apaan si ini, dit coba hubungi komting deh” pintaku pada dita. “nggak bisa, nggak bisa dihubungin nomernya” balasnya dihiasi dengan wajah masam semasam jeruk nipis. “masa??? Sejam yang lalu dia online kok” khoti menimpali. Vivi yang juga temanku satu Prodi di PBA hanya tersenyum saat itu.
Bosan menunggu, akhirnya dita mengajakku meninggalkan ruang yang hampir menjadi tempat pembantaian nilaiku itu. Sempat dita menitipkan tugasnya pada vivi, tapi vivi menolak. Dan akhirnya, tugaspun dibawa pulang. Teman-teman yang lain juga bergegas meninggalkan ruangan. “mau dikumpulin sendiri-sendiri apa mau langsung pada pulang??” tanyaku pada gadis manis dari jurusan Bahasa dan Sastra Jawa. “pulang aja deh” jawabnya disertai senyum manis bibir tipis itu.
v   
“ibuuuuukkkkk” sapaku girang pada mahasiswa bertubuh bongsor. Ya.. mbak Rani, mahasiswa semester 5 Pendidikan Bahasa Prancis yang lebih akrab kusapa ibuk. “apa?” jawabnya tegas. Dan bla..bla.. kuceritakan pengalaman menjengkelkan mengenai tugas BK ku. “terus sekarang tugasnya udah jadi?” tanya ibuk padaku. “udah lah buk, beruntung kemarin bapaknya nggak dateng. Jadi bisa sedikit bernafas lega nyusulin tugasku yang belum jadi. Hehe” timpalku enteng
Drrrttt...drrrrttt.....
Hapeku bergetar ria.
Sedetik kemudian pesan sudah terbaca. Dalam 5 menit pesanpun kubalas
To:
Vivi
Iya ini aku jg lg hbngin komting sm pak dosen tercinta. Tp tetep nggak ada tanggepan ik :’(
Ya nanti kl nggak ada tnggepan jg, besok lgsung dkmpulin ke ruangan y aja. Di fakultas sebelah. Gmana??
Ternyata cara pikirku dan vivi sama, kami menunggu menghubungi kedua orang penting itu sampai bosan. Dan benar saja, sampai esok hari pun tetap tak ada tanggapan dari komting dan dosenku. Akhirnya aku berdua vivi meluncur ke fakultas sebelah. Baru saja kaki ini mendarat dari motor pinjaman, kudapati dosenku sedang duduk dalam ruangan kosong di depan netbook. “pucuk dicinta ulam pun tiba” seloroh vivi melayangkan tawa evil nya.
Betapa senangnya aku saat itu. merasa menang pada tugas yang hampir membunuh nilaiku, aku berjalan santai mendekati dosen innosence itu. “Assalamu’alaikum. Pak...” belum selesai aku dan vivi mengutarakan keinginan mengumpulkan tugas, dosen innosence itu sudah mengajukan tangan kanan nya menolak tugas kami. “dibawa pulang aja mbak” tuturnya diselingi tawa kecil. Petir pagi buta menyambarku lagi kali ini, mataku menggenang dibuatnya. “lhoh..kenapa pak???” tanya vivi penasaran. “kan sudah terlambat mbak” jawabnya lagi masih dengan tawa kecil yang kecut. “kita udah hubungi bapak dari kemarin tapi nggak ada tanggapan pak” kata vivi lagi. “ya karena saya tau kalian sudah terlambat. Jadi dibawa pulang aja tugasnya, komting kalian juga seperti itu memohon-mohon di telfon. Ya akhirnya tak diamkan saja” tawanya lagi lebih keras. Aku kehilangan kata-kata saat itu, sedang vivi masih saja berusaha mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan. Dan hasilnya, NIHIL. Beliau masih tetap pada iman nya.
Dunia serasa gelap bagiku dan vivi, petir pagi buta masih saja menyambar. Serasa berjalan dalam hujan dalam film-film saat si lakon mengetahui kenyataan yang tak ingin diketahuinya. Sejenak mata kami bertemu, aku dan vivi. “ditolak dosen....” dan tamat. :’(

Senin, 17 Desember 2012

HIMPRO BSA 2012 looking for the day


 Aku punya harapan besar.....

Tulisan ini murni tanpa politik, jadi bacalah dengan seksama dan tidak perlu tergesa-gesa.

Awal cerita.... kita berpikir keras memutar otak untuk melahirkan ide. Hasil dari buah pemikiran kita adalah setumpuk program kerja satu tahun kedepan.
Dulu...
Saat pertama kali kita dipertemukan. Tidakkah kalian tahu,, rasa keindividuan terasa kental disana. Tidakkah kalian dengar  beberapa diantara kalian berbicara dalam diam.
Tapi sekarang, ketika hampir semua dari kita bekerja layaknya barisan semut hitam. ketika hampir semua dari kita berbicara menyuarakan apa yang dipendam. Kesempatan itukah yang akan kalian sia-siakan????
Ketika hasil pemikiran tak tertuntaskan, bahkan belum tersentuh sedikitpun. Tidakkah kalian berpikir untuk merealisasikannya????
Kalau aku mampu, ingin kugantikan 37 peran kalian disini. Tapi,,, aku tak mampu. Aku tak mampu bekerja sendiri, aku butuh 37 pemikiran, aku butuh 37 sudut pandang, aku butuh 37 pendapat yang penuh pertimbangan.
Sungguhkah kalian akan membiarkan hasil pemikiran yang didapat dengan berbagai pengorbanan, kecemasan, dan segudang harapan itu hanya terpampang sebagai PROGRAM KERJA GAGAL.....????!!!
Aku percaya, masih ada ikatan emosional antara kalian dengan HIMPRO kita. Dengan menggantungkan sedikit harapan aku ingin HIMPRO kita dipimpin oleh orang yang mempunyai ikatan emosional dengan HIMPRO itu sendiri.
#Lanjutkan dan aksikan apa yang ingin kalian realisasikan

Minggu, 02 Desember 2012

kampoeng boedaja



Kampoeng boedaja atau yang biasa dikenal dengan sebutan ‘KB’ merupakan salah satu agenda tahunan HIMPRO BSA yang menyuguhkan aneka kebudayaan dari negara Prancis, Jepang, Arab, dan Mandarin. Mulai dari pakaian tradisionalnya, makanan khasnya, serta tarian-tarian yang dimiliki ke empat negara tersebut.
KB selalu mempunyai tema tersendiri setiap tahunnya. Dan pada tahun ini, KB mengusung tema ‘Fun-tastic Four’ sebagai cerminan 4 bahasa dan kebudayaan yang ada di BSA. Menurut Faisal Yudhi Hermawan selaku ketua panitia, dengan tema tersebut harapannya KB bisa menjadi batu loncatan prodi-prodi yang ada di jurusan Bahasa dan Sastra Asing untuk menunjukan begitu luar biasanya kebudayaan-kebudayaan yang mereka miliki.
“berkaca pada 4 bahasa dan kebudayaan di BSA. dengan kekhasannya masing-masing, keempat bahasa dan kebudayaan tersebut disuguhkan secara istimewa. Menyenangkan dan luar biasa tentunya”. Jelas faisal
Kendala waktu dan perijinan
            Dari tahun ke tahun permasalahan yang dihadapi panitia dalam mempersiapkan acara KB adalah singkatnya waktu. dengan keterbatasan waktu yang dimiliki tersebut, ternyata berimbas pula pada kinerja masing-masing seksie terutama sponsorship.
            “banyak perusahaan yang menyayangkan ketidakepatan waktu pengajuan proposal kita. dikarenakan kebanyakan pada bulan-bulan ini perusahaan sudah tutup buku dan tidak bisa memberikan donasinya. Selain itu, sebagian besar instansi menginginkan pengajuan proposal minimal adalah satu bulan sebelum acara dilaksanakan. sedangkan start awal kita adalah 47 hari sebelum  acara, dikurangi tenggang waktu beberapa minggu untuk penyebaran proposal” tegas Rio selaku koordinator seksie sponsorship saat ditemui seusai rapat.
            Berbeda dengan pendapat Fatkhul. Ketua HIMPRO BSA periode 2012 ini mengatakan bahwa singkatnya waktu dan perijinan bukan kendala.
            “ meski dengan waktu yang sedikit dan ditambah lagi ada beberapa perubahan konsep yang terjadi akibat sulitnya perijinan dari birokrat, saya optimis KB tetap bisa terlaksana dengan baik. Salah satunya dengan mematangkan konsep acara dengan baik dan menarik, sehingga bisa menarik sponsor dan pengunjung. Namun tahun ini sepertinya akan ada sedikit perubahan pada tata lokasi” jelasnya.