Diberitakan baru - baru ini,
harga BBM akan naik. Tentunya berita ini sudah banyak diketahui oleh masyrakat
karena maraknya media yang memberitakan kenaikan harga BBM. masyarakat dari
berbagai elemen pun turun untuk demonstrasi perihal naiknya BBM dan menuntut turunya
SBY-Boediyono, kritik kritik pun berlemparan. saya melihat dan berkata “wow
hebat sekali kritiknya”, tetapi kembali saya penasaran, apakah elemen elemen
itu sudah mengkaji tentang kenaikan BBM itu sendiri atau tidak ?
Indonesia
memliki harga BBM yang kecil dibanding negara berkembang lainya, namun apa yang
terjadi kita hanya melihat ini dalam kacamata apriori terhadap setiap
kebijakan, apakah kita masih berharap dengan jumlah masa dapat menjatuhkan
suatu kebijakan pemerintah ? lalu sampai kapan kita ini berpikir anarkis? Ini saatnya
mahasiswa kembali ke fitrahnya sebagai kaum intelektual. Dan sudah bukan
jamanya mahasiswa menjawab segala pertanyaan hanya dengan alasan normatif yaitu
“kasihan rakyat kecil”. Perlu diingat pada momen seperti ini, saya yakin orang
yang mengaku sebagai “rakyat kecil” tersebut akan bertambah drastis jumlahnya.
Banyak
kawan-kawan berteriak bahwa kita termasuk negara penghasil minyak. Menurut saya
kitapun tidak bisa lagi disebut negara penghasil minyak seperti dulu pada tahun
1969 ketika produksi minyak kita 1,6 juta barrel per hari, pemakaian dalam
negeri 1 juta barrel perhari dan masih tergabung dengan OPEC. Namun realita
yang terjadi dimasyarakat ini adalah banyak bertambahnya penggunaan BBM yang
besar pasak daripada tiang, yang berakhir pada tahun 2003 akhirnya indonesia
bukan lagi menjadi negara Eksportir Minyak dan berubah status menjadi Nett Oil
Importir. kalau saja indonesia dapat menaikan lifting oilnya menjadi beberapa
juta barrel per hari, niscaya indonesia dapat kembali menjadi anggota opec. Tetapi
kita juga tidak dapat melihat dari sisi ini saja, karena kemungkinan besar
pasokan minyak di indonesia dapat habis dalam hitungan puluhan atau belasan
tahun.
Logika
dan analisis kecil saya, meski kita kaya akan minyak tetapi carut marut
pengelolaannya membuat kita harus Impor dan mengikuti harga pasar dunia yang
terus naik. Sedangkan APBN kita sudah ngos-ngosan untuk menambal subsidi BBM.
Disamping itu, faktanya adalah bahwa subsidi BBM yang paling besar adalah
Premium. Sementara penikmat Premium selama ini sebagian besar merupakan
orang-orang yang tergolong mampu. Dengan naiknya harga BBM, hal itu akan
mengurangi subsidi BBM yang terbuang percuma. Dan akan lebih bermanfaat ketika
dana subsidi digunakan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan seperti sektor
Pendidikan maupun Kesehatan.
Sebagai
rakyat indonesia, saya haya mencoba mengajak kawan kawan berpikir bukan hanya
mudaratnya tetapi juga manfaatnya daripada kenaikan BBM ini. Yang
dipermasalahkan seharusnya antisipasi terhadap dampak apa yang terjadi ketika
naik baik itu terhadap ekonomi makro maupun ekonomi mikro, dan solusi apa untuk
mengurangi dampak kekacauan yang dalam artian masih mungkin terjadi. dengan
naiknya BBM maka Anggaran untuk pemerintah jelas akan bertambah, mengapa kita
tidak berpikir panjang, dan merancang dari awal untuk sebuah pergerakan yang
lebih bersifat elegan untuk membicarakan tentang rencana penggunaan keuntungan
dana pemerintah yang akan jauh meningkat setelah BBM naik ? jadi kawan kawan
bagaimana menurut kalian ? akan dikemanakan dana lebih itu ?,
0 komentar:
Posting Komentar